FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

Bogem: Desa Dawet Bayat “yang Hilang”

Luas wilayah Bogem 84,4850 hektar dengan jumlah penduduk 2064 jiwa. Berada di perbatasan dengan Gunungkidul, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Merupakan anjir (perbatasan keraton) antara Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Berada di kaki Pegunungan Seribu (Gunung Sewu).
“Di Bogem, di catatan kuno milik Leiden di Belanda pernah ditemukan patung dan relief” ungkap Wahyudi. 
Patung dan relief tersebut diperkirakan bertahun 1282 Masehi, diperkirakan di era Singasari, karena Majapahit sendiri didirikan tahun 1293 Masehi. Belum ada kajian mendalam tentang keberadaan bekas-bekas patung dan relief di Bogem, yang kemungkinan terdapat bangunan candi atau peribadatan atau perabuan di Bogem. Karena kondisi Bogem yang berbukit kecil dan memiliki beberapa sumber air atau belik. Selain itu, setelah era Islam, di dekat Bogem juga terdapat makam-makam tua penyebar agama Islam, diantaranya Syekh Kewel yang merupakan sahabat Sunan Pandanaran ing Tembayat yang pernah merampok dan menjadi cikal bakal Kota Salatiga.
Masyarakat Bogem mayoritas berprofesi sebagai petani dan pedagang. Dagangan yang biasa dijual adalah Dawet Bayat dan Burjo (Bubur Kacang Ijo). Menariknya masyarakat Bogem tidak banyak mengetahui asal-usul Dawet Bayat. Sejauh yang diketahui bahwa dahulu ada tokoh masyarakat dari Timur (kemungkinan dari Jawa Timur), membawa dawet dan mengajari masyarakat. Tokoh tersebut tidak semata-mata mengajari membuat dawet tetapi menjadi guru ngaji dan sering menjadi rujukan masyarakat. 
Wahyudi dan kawan-kawan pernah menelusuri asal-muasal dawet tersebut. Petunjuk awalnya bahwa dawet tersebut berbahan baku pati onggok, erwarna putih dan abu-abu. Di Jawa Timur, satu-satunya daerah yang memiliki kesamaan ciri-ciri dengan Dawet Bayat hanya di Jabung, Mlarak, Ponorogo. Demikian tidak mengherankan, karena hubungan antara Bayat dengan Ponorogo sangat erat, sejak Sunan Pandanaran.
Desa Bogem tidak latah mengambil desa wisata sebagai salah satu unit BUMDes nya. Mengapa demikian? Berdasarkan musyawarah desa, khususnya usulan pemuda desa, “jika mau menjual wisata desa, lalu yang mau membeli siapa, karena setiap desa telah banyak mengambil wisata desa”. Maka Bogem mengambil unit-unit seperti gedung pertemuan yang bisa dijadikan lapangan futsal, tleser perontok padi, tenda pesta, genset dan mobil transportasi. Walaupun sedikit pemasukannya, tetapi bisa bertahan saat pandemi covid-19 seperti ini. (Minardi)

kirim ke teman | versi cetak

 

Rabu, 23 Juni 2021 07:30:42 - oleh : admin

Informasi "" Lainnya