MUDIK Edisi 5| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini | Sajian Utama | Sajian Utama2 || Kunjung Kampung | Tokoh Kita | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku | | Dukungan Program Aksi| Tokoh KitaBanyak Perempuan Pengambil Kebijakan
|
| M | : | Sebelum Mbak Ninuk memulai menceritakan bagaimana awal mula ketertarikannya pada kegiatan yang selama ini digeluti, bisakah mengenalkan diri lebih dulu ? |
| N | : | Nama saya Andriati biasa dipanggil Ninuk, sekarang sudah berkeluarga dan mempunyai tiga orang anak, satu putra dan dua putri. Anak saya yang pertama Rengga umurnya 8 tahun, kedua Andira umur 5 tahun dan ketiga namanya putri 4 tahun. Suami Puguh Adriyanto 35 tahun, bekerja di dunia yang berbeda dengan saya, dia bekerja sebagai marketing disebuah hotel di Sumatra Utara. Saya mulai aktif di masyarakat sejak tahun 1987, tapi pada waktu itu dimulai de-ngan beraktifitas disepanjang sungai Deli. Perlu diketahui bahwa kawasan disepanjang sungai Deli itu adalah kawasan kumuh, kegiatan yang kami lakukan pada waktu itu melibatkan anak-anak dan ibu-ibu disebut Kerja Sosial Kawasan Perkotaan. Entry point masuk kekawasan itu adalah melakukan pendekatan untuk membuka sekolah taman bermain untuk anak-anak seusia TK dan juga melakukan diskusi dengan ibu-ibu untuk menata lingkungan dan juga diskusi-diskusi tentang kesehatan. Pada tahun 1991 saya bergabung dengan teman-teman dan aktif di forum LSM, bernama Wahana Informasi Masyarakat, yaitu suatu forum LSM Sumatra Utara, karena forum maka kita jadi banyak mengenal orang dan juga aktifitas teman-teman LSM lainnya. Saya belum menemukan jati diri saya dan saya hanya bekerja kalau ada kegiatan, misalnya pelatihan, penyuluhan atau hal-hal yang sudah jelas untuk dilakukan sampai dengan th. 2000. Dan saya kembali ke Deli Serdang karena saya bukan orang Medan. Ketika sudah di Deli Serdang saya berpikir mengapa saya tidak mulai di Deli Serdang dan saya kemudian mandiri karena kita melihat ternyata kaum perempuan tidak banyak yang perduli, tidak ada data mengenai kasus-kasus kekerasan dan apapun yang berhubungan dengan perempuan, maka saya mendirikan PIKP (Pusat Informasi dan Komunikasi Perempuan) tujuannya adalah memberikan informasi yang baik dan benar pada perempuan khususnya, karena kita melihat banyak informasi-informasi terutama dari media masa yang tidak benar, sehingga banyak perempuan yang tidak mendapatkan informasi yang baik, mereka tidak membaca koran, kalau menonton TV selalu hiburan yang dipilih, karena sudah lelah maka yang ditonton hanya telenovela, sehingga dari situ kita mengumpulkan informasi dan informasi yang kita dapat lalu kita sebarkan lagi bahwa ini lho kenyataan dilapa- ngan dan kita diskusikan. Misalnya dari iklan majalah Tempo atau di Kompas yang mengatakan bahwa; semakin tinggi rok anda maka akan semakin tinggi tingkat perkosaan, dan itu kita tolak dengan data karena banyak yang diperkosa bukan karena memakai rok tinggi, banyak yang diperkosa adalah orang baik-baik karena banyak kasus bahwa yang memperkosa itu adalah keluarganya. Hal-hal semacam ini kita informasikan kepada ibu-ibu dan kaum perempuan bahwa kita harus lebih berhati-hati dengan orang di sekitar kita, walaupun ada orang yang diperkosa saat pulang kerja misalnya tapi ini sangat sedikit dari pada orang yang diperkosa oleh keluarganya. |
| M | : | Mengapa pilihannya menjadi pedagang hasil bumi ? |
| N | : | Pertama saya melihat hasil bumi di sekitar sini sangat beragam, sehingga kemungkinan kalau saya menjadi pedagang bisa beragam barang yang saya jual. Kedua, saya melihat penduduk disini kesulitan kalau menjual hasil bumi karena pasar jauh dan jarang ada pedagang yang mau masuk ke desa, karena transportasinya mahal, tidak sebanding dengan barang yang akan dijual. Petani akan jual simpanannya kalau membutuhkan uang segera, dan itupun tidak banyak. Petani biasanya menabung berupa hasil panen misalnya gabah, kacang, jagung, dll. |
| M | : | Kemudian dari gerakan Mbak Ninuk ini, kira-kira sudah berapa orang atau berapa kampung yang tercerahkan atau terperciki oleh gerakan ini? |
| N | : | Kalau kampungnya karena Deli Serdang dan Serdang Bedagai sudah berpisah, kita dan kawan-kawan itu telah bergerak di 62 desa. (Kabupaten Serdang Bedagai adalah perluasan Kabupaten Deli Serdang) |
| M | : | Program riilnya apa ? |
| N | : | Dari 62 desa itu setengahnya baru pada taraf pendekatan, misalnya baru mulai masuk dan berkenalan dengan kepala desa, cari data soal perempuan, data soal perempuan yang berprestasi dll. Dan sekarang sudah setengah dari itu telah melakukan diskusi kampung dan juga sebagian teman-teman di SPI (Serikat Perempuan Independen) juga sudah mulai memba-ngun kegiatan perekonomian. Banyak orang yang merasakan mengumpulkan orang untuk diajak diskusi. Apabila kita undang diskusi ibu-ibu 30 orang dan dapat hadir 18 orang itu sudah sangat bagus, kecuali kita minta tolong kepada kepala desa untuk mengumpulkan perempuan. Kalau dikumpulkan di PKK memang banyak yang hadir, bisa 40 sampai 60 orang, tapi saya melihat itu datang bukan karena kesadaran penuh tapi datang karena disuruh Pak Lurah, walapun strategi itu tetap kami pakai, sebab ketika memberikan informasi kepada perempuan saya ingat dulu sebagian teman-teman yang sangat alergi kalau harus masuk ke PKK, karena PKK kan buatannya pemerintah kita buat sendiri saja alasan mereka. Maka kemudian saya jelaskan bahwa itu adalah tempat yang strategis untuk memberikan informasi apapun kepada perempuan, karena itu sudah dibentuk dan sudah ada sehingga kita tinggal masuk jadi tidak perlu dipermasalahkan. Lalu kita masuk ke PKK, kita masuk ke perkumpulan perwiridan masing-masing, dan kita minta waktu sama pengurusnya, bahwa minggu ini kita akan mengadakan diskusi dimana waktunya sebelum acara dimulai atau sesudahnya, karena kita mengetahui bahwa peserta dari acara itu ada banyak sekitar 60-an orang dan paling sedikit 50 an orang. Dan dari situ kita menjaring orang-orang yang benar-benar butuh. Setelah beberapa waktu kita evaluasi ternyata bila dalam diskusi tersebut membahas aspek pendidikan ekonomi peserta akan lebih bergairah, karena kalau ha- nya mendapatkan ilmu tanpa mendapatkan se- suatu itu dianggap melawan dan dianggap tidak ada gunanya, dan ini ditengarai oleh para suami sebagai gerakan melawan suami. Untuk mengatasi itu kita mengadakan pendekatan dari rumah kerumah dan kalau dari sekian banyak orang sudah terjaring, misalnya sekitar 15-18 orang dan katakanlah 5 orang dari itu ada masalah dalam keluarganya maka kita akan datang kerumahnya untuk saling mendukung. |
| M | : | Berapa kawan mbak Ninuk yang aktif di Solidaritas Perempuan?. |
| N | : | Anggotanya ada 27 tapi, yang ada di sekreta- riat cukup lima jadi yang lainnya turun ke desa, datang ke desa-desa teman-teman anggota itu dan nanti sekiranya ada yang potensial kita ka- der sedikit-sedikit. Dan kita juga berkerja-sama dengan SPI sehingga jelas kelompoknya karena orang sering klaim anggota, sehingga tidak terjadi rebutan anggota. Justru sekarang ini SPI yang berfungsi sebagai fasilitator, jadi SPI punya kelompok-kelompok dan SP akan masuk kekelompok-kelompok itu. |
| M | : | Kalau dari wilayah pelayanan secara kesepakatan apakah membatasi diri atau dimana saja karena mungkin sekarang ini hanya di 62 desa atau mungkin suatu saat akan mencakup diseluruh Kabupaten? |
| N | : | Itu nggak masalah itu mungkin saja. |
| M | : | Terus yang berkaitan dengan muatan yang dibawa oleh mereka yang turun kedesa jelas me-reka punya komitmen, tetapi mereka jelas punya bekal pengetahuan, refrensi-refrensi atau yang lainnya. Selama ini dari mana kawan-kawan mendapatkannya bekal-bekal itu? |
| N | : | Sebenarnya payungnya adalah HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) dan kemudian HAPSARI ini punya anggota serikat-serikat ada SPI, SP, Serikat Perempuan Petani Nelayan, Serikat Perempuan Independent Labuhan Batu, SPI Simalungun, Serikat Orang Palembang. Pendidikan di lapangan kalau SPI sebagai payungnya paling mereka melakukan pendidikan-pendidikan terhadap anggotanya terhadap orang yang berpotensi dan kemudian didorong karena benar-benar bekerja sendiri, kalau SPI benar-benar kelompok masyarakat Desa yang kemudian menjadi pintar bukan tamatan dari akademisi mana, universitas mana me-reka semua paling tinggi pendidikannya adalah tamatan SMA. Berbeda dengan SP karena SP justru kelas menengahnya, karena SP itu harus mengambil elit Desa karena mereka yang akan di didik dan ini akan menjadi fasilitator dikelompoknya untuk membentuk kelompok-kelompok lain, jadi pembagian tugas dikelompok jadi baik sehingga tidak ada saling klaim anggota. |
| M | : | Secara hirarki antara SPI dan SP ada di dalam satu daerah, artinya SPI punya gerakan otonom sendiri dan SP juga punya sendiri. Dari segi pendanaan apakah kawan-kawan ini ada lembaga dana atau swadaya ? |
| N | : | Kalau SP mempunyai seknas di Jakarta sehingga kita dapat dana dari sana, tapi kalau SPI me-reka meminta program ke HAPSARI sebagai induknya, ada program bersama tapi yang otonom seperti pengembangan wilayah, pengembangan kelompok itu secara swadaya misalnya iuran anggota dan mereka juga mempunyai koperasi sehingga dapat diambilkan dari keuntungan yang didapatkan. |
| M | : | Apakah ada mekanisme iuran kaitannya dengan ekonomi, bentuk riilnya apa? |
| N | : | Selama ini yang sudah dilakukan adalah memberikan dana bergulir untuk usaha, misalnya ada ibu berternak bebek dan kita berikan pinjaman modal kemudian telurnya itu yang digunakan untuk membayar hutang sesuai dengan yang disepakati. |
| M | : | Bagaiamana kesiapan para suami yang istrinya terlibat aktif dalam kegiatan penyadaran ini? |
| N | : | Kita diskusikan lagi dengan kelompok , terus biasanya yang bersangkutan akan menceritakan masalahnya; kemudian dari kelompok itu akan mencarikan solusi dengan berbagi pengalaman, dan kalau cara pertama ini masih belum selesai maka kita ikuti dulu misalnya kalau suaminya melarang kegiatannya tidak boleh jauh-jauh dari Desa maka kegiatannya kita laksanakan dirumah yang bersangkutan, sehingga suaminya akan melihat bahwa itu hanya diskusi tidak ada kegiatan yang negatif. |
| M | : | Tapi pernah nggak menemukan para suami yang menemukan konflik karena kegiatan itu, kemudian suami itu dengan sendirinya dan secara sadar membahasnya dalam rumah tangga? |
| N | : | Di Simalungun memang kita ajak seorang ibu yang tidak boleh keluar, maka kita ajak suaminya ngobrol dan disitu kita jelaskan bahwa kita hanya berkawan kita tidak melakukan sesuatu perlawanan kita hanya memberikan penyadaran terhadap ibu-ibu, sampai suaminya kurang yakin maka kita undang camat. Mengundang camat di desa itu dan bisa datang itu sebuah prestasi, karena mana mungkin kalau perempuan membuat acara camatnya mau datang dan ternyata camatnya datang dan juga teman-teman DPR yang saya kenal juga saya suruh datang walaupun mereka tidak bicara. Bagi masyarakat ada camat, ada DPR adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan itu yang mengundang ibu-ibu dan ternyata camat mau datang dan DPR juga datang. Sehingga kemudian para laki-laki itu bilang ” hebat ni mereka” jadi mereka itu tidak main-main. Begitu pula seorang ibu yang dia hanya sekolah sampai kelas 2 SD kemudian bisa menjadi ketua diserikatnya itu punya pengalaman, misalnya waktu pertama disuruh tanda tangan sampai sakit pusing karena takut merasa tulisanku yang paling jelek, pasti aku akan diejek dan ditertawakan, sampai sekarang dia sudah pandai ngomong dan sesudah itu suaminya hadir karena saya sudah dianggap sebagai narasumber, sehingga suaminya itu melihat dan suami itu yang akan menjelaskan pada suami-suami yang lain. Sama seperti pelatihan ada peserta yang bilang begini “Bu saya nggak bisa menginap karena tidak diperbolehkan oleh suami saya” maka kita bilang nggak apa-apa, kita pesan agar nanti yang menjemput itu suaminya, dan kalau mi-salnya acaranya selesai jam 10 maka jam 9 sudah harus dijemput maka otomatis mereka akan datang lebih awal sehingga mereka akan bertemu dengan suami yang memang istrinya sudah diijinkan, dia kita suruh disitu dan mereka kita suruh mengajak ngobrol, karena mereka sama-sama laki-laki walaupun pertama ditentang tapi karena dijelaskan oleh mereka yang sama-sama laki-laki maka mereka akan mengerti. |
| M | : | Bagaimana dengan tokoh-tokoh agama, biasanya masih ada tokoh agama yang berpikiran bahwa perempuan itu ya dirumah dan tidak boleh berorganisasi, ada nggak tantangannya ? |
| N | : | Kalau dari tokoh agama tidak ada, makanya kemudian kita merumuskan apa sih tokoh masyarakat itu, kemudian kita rumuskan bersama sehingga perempuanpun juga dapat menjadi tokoh masyarakat. |
| M | : | Selama ini kendala yang paling keras yang dihadapi Mbak Ninuk digerakkan perempuan apa? |
| N | : | Kalau dari keluarga tidak ada |
| M | : | Selain sebagai tokoh pergerakan perempuan, apa lagi kegiatan mbak Ninuk yang paling menonjol akhir-akhir ini? |
| N | : | Menjadi salah satu koordinator asosiasi anggota BPD se Deli Serdang untuk pengembangan keanggotaan, koordinator itu ada 3 dan saya adalah salah satunya. |
| M | : | Lalu bagaimana Mbak Ninuk membagi waktunya, karena kodratnya sebagai wanita kan minat terhadap rumah tangga kan peka dan tidak mau kalau rumahnya berantakan, berantakan dalam artian kebersihan, penataan dan lain-lain dan disisi lain Mbak Ninuk juga harus memperjuangkan kaum perempuan, bagaimana Mbak Ninuk dalam mengatur waktu? |
| N | : | Ya kalau pagi karena saya tidak mempunyai pembantu, baru dua bulan ini aja ada, sebelumnya tidak, kalau pagi anak-anak pergi kesekolah sebelumnya saya siapkan sarapan, karena suami saya bukan tipe pembantu yang latar pendidikannya sebagai marketing saya terserah ma apa saja asalkan rumah beres, jadi dia memberi kebebasan bagaimana kamu mengatur hidup kamu. Jadi saya menyelesaikan pekerjaan itu dan jam 9 sudah selesai dan anak-anak sekolah sedangkan yang paling kecil saya titipkan kepada neneknya dan saya pergi kerja. Begitu pulang jam 5 atau jam 6 saya ambil anak-anak. |
| M | : | Ada protes anak-anak? |
| N | : | Ada, dari anak saya yang pertama, dia kalau tahu saya pulang dari bepergian dan setelah itu mau pergi lagi dia nggak mau sekolah. Seminggu sebelum pergi biasanya saya sudah menjelaskan kepada mereka semua bahwa saya akan pergi dan selama pergi yang akan me-nemani ini, dan yang akan mengantar sekolah ini, jadi memberikan pengertian kepada mereka. Dan saya juga melatih kepada anak saya yang paling besar untuk mengelola uang jajannya sendiri sehingga sebelum pergi biasanya dia saya kasih uang saku yang cukup selama saya pergi dan untuk yang masih kecil saya titipkan kepada neneknya atau kakaknya yang jaga. Tapi mereka juga bertanya kok ibu kita ini sering perginya, orang lain juga bekerja tapi tidak pergi-pergi seperti ini. Jadi proses penjelasannya tiap kali ada waktu saya ajak mereka berdiskusi kalau sekiranya ada pendidikan yang memungkinkan mengajak mereka, mereka kami saya ajak atau menjemput, jadi suami saya suka jemput kalau ada acara yang sekiranya tidak jauh dan anak saya ikut, dan mereka saya perbolehkan asal tidak mengganggu saya, dan mereka juga bertanya kok kerjanya jauh kedesa-desa. |
| M | : | Apa sih obsesi Mbak Ninuk terhadap perempuan kedepannya? |
| N | : | Harus banyak perempuan-perempuan yang duduk di kursi pengambil keputusan, tapi bukan orang yang sekedar duduk, harusnya perempuan-perempuan yang duduk dipengambil keputusan sudah mempunyai kesadaraan terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Jadi kalau di Deli Serdang DPRDnya ada 5 dan mereka tidak ada hambatan untuk diajak ngomong tentang perempuan, sedangkan di Serdang Bedagai sendiri ada 7 DPRDnya yang perempuan tapi mereka sulit diajak ngobrol karena kurangnya pengetahuan mereka tentang perempuan jadi agak sulit. Jadi seharusnya mereka yang duduk dikursi pengambil keputusan adalah mereka yang punya latar belakang perempuan kalau dia itu perempuan dan kalau laki-laki paling tidak punya latar belakang kemasyarakatan. Waktu pemilu kemarin saya juga bermain di politik kebetulan saya di PAC partai PID, SK peng-angkatan saya adalah untuk 2 tahun ini menjadi koordinator wilayah di Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat dan Binjai. |
| M | : | Jadi sudah menjadi koordinator antar kabupaten,mungkin Mbak Ninuk sudah dicalon-kan menjadi anggota DPR? |
| N | : | Iya kemarin saya adalah calon dari Serdang Be- dagai untuk DPRD Tk II, tapi ada kebohongan dan saya menjadi korban dari janji itu, jadi di-tingkat propinsi dan Kabupaten punya perjanjian suara terbanyak akan diangkat dan ini disiasati dengan surat pengunduran diri masing-masing caleg dari partai di DPRD sehingga ketika saya diberi nomor 3 saya nggak masalah selama ada perjanjian itu, karena waktu itu kita mau tes kejujuran orang, bagaimana dia mau menjadi wakil rakyat kalau dia sendiri tidak jujur. Dan ternyata setelah pemilu di Kabupaten saya suaranya terbanyak, tapi kemudian Nomor satu ingkar bahwa UU-nya kan tidak begitu, UU-nya kan sesuai Nomor urut, memang dari awal kita sudah tahu tapi berdasarkan perjanjian sudah dibuat surat perjanjian suara terbayak dan itu dibuat dihadapan notaris, tapi kata ketua KPUnya tidak mempermasalahkan itu. Menurut dia ya sesuai Nomor urutnya, dan salahnya ketua KPU adalah ketika partai membuat surat pernyataan berhenti secara organisasi partai dan bukan merupakan orang partai lagi, tapi itu tetap saja sia-sia. Saya nggak tahu ada permainan apa atau nasib saya saja yang tidak bagus. Dan saya tanya lagi, saya laporkan ke Jakarta dan dari sana memberikan jawaban,oke kalau begitu tapi perjanjian itu kan ditingkat propinsi bukan ditingkat nasional, jadi kalau begitu apakah saya sebagai kader partai saya harus dirugikan dan tidak mendapatkan keuntungan apapun. Dan saya sedang menawar pada propinsi dan pusat sehingga ada solusi bagi saya sebagai kader partai tidak dirugikan karena kemarin sudah malang melintang. |
| M | : | Oke Mbak Ninuk mungkin ada yang mau ditambahkan. |
(Warno)

