MUDIK Edisi 4| Salam Mudik | Forum Kita | Editorial | Opini 1 | Opini 2|| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita| | Dialog Wong Cilik | Resensi Buku | Resensi BukuDari Petani ke Pengrajin
Petani sebagai subyek dunia pertanian, sejak dimulainya pembangunan pertanian di Indonesia dan di berbagai belahan dunia maupun di jaman globalisasi pertanian saat ini tidak pernah menjadi aktor utama. Mereka lebih sebagai obyek penerima dan pelaksana dari kebijakan-kebijakan pertanian yang seringkali bukannya menguntungkan kehidupannya, namun lebih membuat hidupnya menderita. Pertanian yang merupakan budaya kehidupannya semakin hari semakin sulit dijalani. Tekanan eksternal dan pilihan untuk melepaskan budaya kehidupannya semakin hari semakin luar biasa. Sektor pertanian karena tidak memberikan kehidupan yang layak, banyak mendorong berubahnya mata pencaharian kehidupan budaya petani yakni pertanian ke sektor lain termasuk ke industri atau sektor kerja lain. Buku ini merupakan salah satu dari sekian buku hasil penelitian mendalam tentang alasan dan faktor yang mempengaruhi perubahan petani beralih usaha ke pengrajin, sebagai salah satu mata pencahariannya. Titik berat pembangunan ekonomi di Indonesia sejak dulu menekankan di bidang industri, walaupun diharapkan adanya keseimbangan pertumbuhan industri dan pertanian (hal 21), ternyata dunia pertanian yang nota bene lebih banyak berlangsung di wilayah pedesaan dan menjadi gantungan hidup lebih dari 75% penduduk Indonesia tidak mengalami perkembangan yang menyenangkan. Hal ini karena segala kebijakan dan subsidi negara lebih banyak ke dalam industri. Petani kesulitan dalam mengembangkan akses-akses sumber daya alam yakni tanah dan air, sarana produksi hingga kredit. Pengusaha dan sektor bisnislah yang menerima keuntungan pembangunan pertanian yang selama ini ada, karena mereka menguasai akses tersebut. Dampak luar biasa dari ketimpangan pertanian ini adalah berpindahnya ketenagakerjaan dari pertanian ke industri. Generasi muda tidak lagi melanjutkan usaha orang tuanya bekerja di lahan pertanian, bahkan para petani generasi tua beralih kerja ke sektor industri. Hal ini terbukti sejak tahun 1985, jumlah tenaga kerja di bidang industri meningkat tajam dari 5,795,919 menjadi 7,334,874 di tahun 1989 ( naik 6,47 %), sedangkan di pertanian hanya 4,91 % yakni dari 34,141,809 orang menjadi (1985) menjadi 41,282,218 (1989). Perpindahan petani ke industri merubah pola kehidupan mereka. Mereka yang biasa berperilaku sesuai budaya pertanian dituntut bekerja secara individu dan pembagian kerja yang tinggi (hal 3). Perubahan ini mendorong suatu proses adaptasi yang tinggi untuk menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan. Problem keterbatasan sumber daya manusia termasuk pengetahun tentang industri kecil serta akses permodalan. Hal inilah yang mempengaruhi kemandirian dalam memecahkan masalah, kreativitas dalam usaha, keberanian dalam mengambil resiko, membangkitkan prakarsa usaha, keuletan serta kewirausahaan. Buku yang merupakan hasil penelitian dan sekaligus untuk disertasi doktor ini memuat IV Bab yang terdiri dari latar belakang transformasi pekerjaan petani ke industri, kesuksesan transformasi petani ke usaha industri kecil di pedesaan dan faktor yang mempengaruhinya serta rumusan tentang model penyuluh yang ditawarkan untuk menunjang usaha pengrajin industri kecil di pedesaan. Jenis industri yang banyak diminati petani adalah jenis industri kecil yakni baik dalam skala usaha juga hasil usaha yang merupakan olahan hasil pertanian (pengrajin). Model management usahanya dibuat sederhana dan yang penting mengakomodir pencatatan usaha. Kekuatan petani beradaptasi dalam perubahan dari usaha pertanian ke indutri sangat dipengaruhi pengalaman hidupnya dalam usaha tani, ketrampilan usahanya maupun pengetahuannya baik yang diperoleh lewat televisi serta media publikasi lainnya. Selain itu juga pengalamannya dalam menjalani usaha di berbagai bidang usaha industri. Petani yang terbiasa menghadapi kendala alam serta dampak akibat kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkannya, menjadikan petani lebih tahan banting ketika menjadi pengrajin. Hal ini terlihat dari buku hasil penelitian yang dilakukan di Sukoharjo, Delanggu maupun Ceper, Klaten ini. (Rossana Dewi) |

