Friday. July 30. 2010
  HOME Berita Desa Link Bulletin MUDIK Download Kontak Kami
Menu Utama
Tentang FPPD
Buku Terbitan FPPD
Bulletin MUDIK


 

MUDIK Edisi 1

| Salam Mudik | Editorial | Opini 1 | Opini 2|
| Sajian Utama 1 | Sajian Utama 2 | Kunjung Kampung | Tokoh Kita|
| Dialog Wong Cilik | Resensi Buku |

Dialog Wong Cilik

Salah Kaprah

Listrik mampu merubah peradaban dunia menjadi terang, tetapi listrik yang hak kelolanya dipegang oleh PT. PLN, dimata rakyat kecil tidak seterang cahanya. Kita simak dialog “wong cilik” berikut:
Non : Gombal, gombal, gombaaaaaaal,...
Bang : Lho kok ngomel-ngomel ada apa Non?
Non :Gimana nggak ngomel?! masa surat panggilan kerja terlambat, jadi saya nggak bisa kerja. Padahal saya sudah diterima sebagai Bendahara perkebunan kelapa sawit di Jambi.
Bang :Memangnya suratnya lewat mana?
Non :Ya lewat kantor Pos desa itu, mau lewat mana lagi?!
Bang :Lho biasanya lancar dan nggak pernah terlambat?!
Non :Ya itulah, pak sekdes dan perangkat desa lainnya tidak mau mengirim alias ngambek gara-gara pegawai Pos kecamatan itu suka semena-mena, main perintah saja kepada perangkat desa. Jadi pak sekdes ngambek!
Bang :Lha kalau begitu terus kita bisa kacau, saya juga nunggu surat dari pacarku yang ada di Malaysia, wah-wah gawat nih???!!! Yuk kita reformasi sekdes tua itu!
Non :Ngawur aja kamu itu! Kantor Pos itu kan PT! PT kan mencari untung bukan sosial lagi, jadi pak sekdes dan perangkat desa ya nggak salah dong!
Bang :Tapi khan perangkat desa bawahan kecamatan dan kantor Pos desa khan di Kecamatan, jadi desa mestinya menjalankan perintah dari kecamatan termasuk ngantar surat ke alamat-alamat.
Non :Enak amat?! Yang benar ya pak Pos yang bertanggungjawab ngantar surat ke alamat. Bukan seperti sekarang ini apa-apa diserahkan ke desa emangnya desa itu terminal perintah?
 



Copyright © 2006 by Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Powered by XOOPS & 7dana.com