FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Informasi :
Kunci Sukses Pendirian BUMDesa Amarta Pandowoharjo
2018-05-23 18:45:29 - by : admin

Lahirnya kelembagaan ekonomi desa bersebutkan Badan Usaha Milik Desa atau disingkat BUMDesa cukup marak di era pelaksanaan UU Desa. Hal ini tidak lepas dari UU Desa sendiri yang mendorong desa agar membentuk lembaga tersebut. Desa Pandowoharjo adalah salah satu dari sekian banyak BUMDesa di Nusantara yang lahir setelah UU Desa disahkan empat tahun lalu. 

BUMDesa Pandowoharjo tergolong BUMDesa yang berhasil. Ini yang kemudian melatarbelakangi FPPD untuk mengundang Agus Styanto mewakili BUMDesa Amarta Desa Pandowoharjo untuk berbagi kepada khalayak melalui forum rubrik Teras kita RRI Pro 1 Yogyakarta yang secara khusus membincang Desa. 

Dipetik dari cerita pak Agus, demikian host talk show menyebutnya, BUMDesa Amarta merupakan hasil permufakatan musyawarah desa. Dalam menentukan jenis usaha atau posisi BUMDesa dalam arena ekonomi politik desa, menurut Agus, juga tidak asal-asalan. Dalam penjelasannya, dalam musyawarah kami menyepakati bahwa unit usaha BUMDesa tidak boleh menimbulkan persaingan baru, apalagi mematikan usaha warga yang sudah ada. 

Dalam musyawarah desa juga dicapai kesamaan pandangan bahwa pendirian BUMDesa  yaitu mengoptimalkan aset-asset desa dan potensi desa sehingga BUMDesa menjadi instrumen kelembagaan ekonomi desa yang berdaya guna membantu pemerintah desa dalam optimalisasi layanan masyarakat, meningkatkan sumber penerimaan keuangan desa dan meringankan serta mengatasi masalah yang dihadapi warga masyarakat desa.

Mengtatasi masalah warga desa, juga menjadi mandat BUMDesa yang disandarkan oleh BPD. Dari hasil pemetaan potensi dan peluang, musyawarah desa menjatuhkan pilihan usaha pengolahan sampah. Salah satu kunci sukses pengelolaan BUMDesa Amarta, Agus menceritakan yaitu ada pada konsep kerjasama yang diterapkannya, yaitu konsep ABCG.

Kerjasama ABCG yang dimaksud yaitu, Akademisi, Businessman atau pelaku usaha, Community atau masyarakat, dan Government. Agus memaparkan, pendirian BUMDesa Amarta Pandowoharjo menggaet peran akademisi. Apalagi diketahui bahwa Yogyakarta sangat kaya perguruan tinggi, yang itu artinya banyak intelektual yang bisa disambati, jelas Agus. Lalu, kedua, kita meminta peran masyarakat desa, khususnya mereka yang memiliki usaha ekonomi untuk mendampingi tumbuh kembangnya BUMDesa. “Dari relasi ini, kami sangat senang, karena dalam perkembanganya BUMDesa dan pelaku usaha ekonomi desa lainnya bisa saling bersinergi”, ungkap Agus. 

Yang ketiga, jelas Agus, yaitu community atau masyarakat. Kita juga menggaet peran Lembaga Swadaya Masyarakat untuk bersama-sama memberdayakan kami dan masyarakat. Hasilnya, kami temukan strategi untuk menggandeng sebuah rumah makan yang cukup ramai pelangganya. Sebut saja RM Jejamuran, papar Agus. Kepala Desa, mewakili BUMDesa melakukan loby kepada pemilik RM agar merelakan limbah Rumah Makan bisa dikelola oleh BUMDesa sebagai bahan dasar membuat pupuk kompos. Al hasil loby tersebut menghasilkan kerja sama. Sampah diperbolehkan untuk dikelola BUMDesa. Bahkan pihak pengelola RM Jejamuran meminjami tempat untuk didirikan toko untuk memajang produk BUMDesa.

Dari sisi Government, selain bekerjasama dengan Pemerintah Desa Pandowoharjo, BUMDesa Amarta juga secara intensif membangun komunikasi dan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Terutama Dinas Lingkungan Hidup. Hasilnya, pihak pemkab melakukan pendampingan dan pembinaan baik secara teknis maupun non teknis tentang pengelolaan sampah. Untuk menguatkan BUMDesa secara kelembagaan maupun dalam hal hubungan dengan pemerintah, kami membentuk Forum Komunikasi BUMDesa se-Sleman. Melalui forum ini, kami dapat saling berbagi pengalaman sehingga dapat saling menguatkan satu sama lain.[borni]


FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa : http://www.forumdesa.org
Versi Online : http://www.forumdesa.org/?pilih=news&aksi=lihat&id=129