FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa
Informasi :
BARIS-BERBARIS VS SEPAK BOLA
2018-05-07 18:41:55 - by : admin

Oleh: Dr. Sutoro Eko Y (Begawan Desa)


Mendiang Prof Satjipto Rahardjo (Guru Besar Hukum UNDIP) pernah berujar: Indonesia bukanlah negara hukum, melainkan negara peraturan. Saya memberi makna begini. Kekuasaan tidak bekerja atas dasar hukum atau konstitusi (rule of law), tetapi berkuasa dengan hukum (rule by law). Hukum -- sebuah konstitusi sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat -- disederhanakan menjadi peraturan, yang dioperasionalkan dengan ketentuan, syarat, prosedur, dan larangan yang begitu rumit.


Label "negara peraturan" itu seturut dengan bentuk "masyarakat baris berbaris". Dalam baris berbaris, setiap pasukan tidak bisa melakukan apapun kecuali yang diperintah komandan. Baris-berbaris yang hadir dalam upacara punya makna membuat disiplin, kesetiaan dan persatuan. Masyarakat baris-berbaris itu bercorak "kolektivisme monolitik" (kebersamaan yang diayomi penguasa tunggal) atau apa yang disebut Prof Soepomo sebagai negara persatuan atau negara integralistik. Dalam kehidupan sehari-hari, individu maupun institusi kecil memiliki prakarsa, diskresi dan otonomi yang terbatas, yakni: tindakan tergantung perintah-petunjuk aturan dan atasan. Akibatnya institusi kecil atau individu tidak mandiri, tidak kreatif, takut berbuat salah, atau bersikap konservatif.


Saya bersikap kritis dan bengal terhadap formasi masyarakat baris-berbaris dan negara peraturan itu. Saya termasuk orang yang mendambakan "masyarakat sepak bola" dalam bingkai "negara pengatur" maupun apa yang disebut Bung Hatta sebagai "negara pengurus". Dalam sepak bola -- oleh raga yang paling dicintai oleh semua lapisan masyarakat -- setiap pemain punya otonomi dan kebebasan untuk melakukan apapun kecuali yang dilarang. Kalau pemain melanggar maka dia kena semprit oleh wasit, kalau melanggar berat bisa kena kartu kuning bahkan kartu merah. Fungsi wasit itulah yang serupa dengan "negara pengatur".


Meski otonomi individu pemain penting, konsolidasi dan soliditas tim sepak bola sangat penting. Dalam masyarakat-nrgara, inilah yang disebut "kolektivisme pluralistik": tidak ada penguasa tunggal atau one man show, setiap individu dan institusi kecil punya otonomi, tetapi diikat secara bersama (kolektivitas) oleh institusi besar (negara, daerah, desa). Institusi besar menjaga kolektivitas, menjalankan aturan, mengoptimalisasi eksistensi institusi kecil dan pencapaian setiap individu, serta mengurus hajat hidup orang banyak. Inilah gambaran negara pengatur dan negara pengurus.


Kita ini sudah berada di lapangan sepak bola. Tetapi kita tidak bermain sepak bola, malah lakukan baris-berbaris. Itulah mengapa sepak bola kita selalu kalah dalam pentas regional dan global.

FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa : http://www.forumdesa.org
Versi Online : http://www.forumdesa.org/?pilih=news&aksi=lihat&id=127