FPPD - Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

Praktik Baik ‘BUMDes Mardi Gemi’ Kalurahan Gari

BUMD Desa Mardi Gemi adalah BUM Desa yang lahir berdasarkan musyawarah  Desa tahun 2016 dan mulai dijalankan pada tahun 2017, beralamatkan di Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. 
Unit usaha pertama BUM Desa Mardi Gemi adalah pasar Desa yang disebut dengan Wisata Kuliner Pasar Ekologis Argo Wijil. Dulunya Argo Wijil adalah sebuah perbukitan yang tinggi menjulang, kemudian dijadikan mata pencaharian masyarakat sebagai tempat penambangan batu kapur yang dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan pembuatan gamping. 
Lambat laun penambangan tidak terkendali dan menimbulkan kerusakan lahan, sehingga penambangan dihentikan. Perekonomian masyarakat menjadi tidak stabil karena banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari usaha penambangan ini. Ada yang  kemudian menganggur, merantau, buruh dsb. 
Beberapa tahun kemudian lewat kerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI direalisasikanlah program reklamasi (pemulihan lahan) dengan diuruk rata dan ditanami pohon. Melalui usulan masyarakat kemudian dibangunlah pasar dan menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Disisi lain bagi BUM Desa ini menjadi tantangan baru, karena rata-rata masyarakat bukan berasal dari  pedagang. 
Melalui BUM Desa Mardi Gemi masyarakat diajak bersama-sama menghidupkan pasar dengan berjualan kuliner tradisional. Pasar Ekologis Argo Wijil ini kemudian memposisikan diri sebagai Wisata Kuliner Tradisional sekaligus mengusung konsep berwawasan lingkungan. Ada beberapa strategi yang dijalankan agar tepat sasaran diantaranya :
  1. Menarasikan sejarah tempat agar ada nilai yang akan menjadikan daya tarik
  2. Mempersiapkan sajian yang disuguhkan saat pengunjung datang
  3. SDM yang memadahi 
  4. Fasilitas yang baik
  5. Serta publikasi yang maksimal
Melalui unit usaha Pasar Ekologis Argo Wijil mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 100 orang yang terdiri dari 70 orang pedagang, 3 orang pengelola dan 27 orang petugas parkir. 
Bagi BUM Desa Mardi Gemi dibalik sebuah permasalahan ada solusi dan peluang. Inilah yang kemudian dilakukan  oleh BUM Desa ketika masa pandemi covid-19. Salah satunya, melihat kondisi pendidikan saat itu. Ketika kegiatan sekolah tatap muka dihentikan, pelajar dipaksa melakukan pembelajaran secara online dan fakta yang terjadi di Desa terjadi beberapa kendala salah satunya minim signal dan boros kuota. Melalui pendampingan Desakarta Institut, BUM Desa Mardi Gemi mencoba mencari solusi agar masyarakat tidak terlalu terbebani, dengan membuat terobosan internet berdesa/ mewujudkan Desa Swa Internet. 
Tidak ada hasil tanpa memulai langkah  meskipun minim modal tidak menjadikan patah semangat, ini kemudian dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu PT. AITEK dari Jakarta sebagai penyedia modal untuk membangun infrastruktur melalui MOU kerjasama. Singkat cerita, proyeksi pendapatan sudah dibuat (menguntungkan dan terjangkau untuk masyarakat) dan pembangunan infrastruktur sudah terlaksana. 
Selanjutnya ini menjadi unit usaha baru yang diberi nama DEGANET (Desa Gari Akses Internet), yang seakan terasa menjadi angin segar yang seolah tinggal selangkah lagi memajukan Desa. Satu tower utama dan 10 akses point terbangun kokoh di 9 titik di setiap penjuru Desa, dimulai dari pemasangan 40 layanan rumahan dan 9 titik layanan voucher internet terpasang, namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. 
Di awal layanan lancar dan terasa maksimal namun lambat laun terjadi beberapa kendala yang tidak cepat tertangani, contohnya : Bandwith (kapasitas layanan internet) yang tidak sesuai, tidak stabilnya jaringan dan minimnya respon mitra menimbulkan complain pelanggan yang tak berkesudahan. Sedangkan mitra perusahaan terus saja menuntut haknya untuk menyicil dan melunasi infrastruktur yang sudah dibangun. 
Negosiasi terus dilakukan dengan mitra perusahaan untuk menuntaskan kendala agar dapat saling menyelesaikan tanggungjawab masing-masing, namun tidak kunjung menemukan titik temu. Sempat internet BUM Desa dimatikan lewat remot jarak jauh karena yang pegang kendali mereka pemodal inftastruktur, selanjutnya berdampak kepada complain pelanggan yang menggunakan layanan BUM Desa. Sementara BUM Desa kebingungan karena berhadapan langsung dengan pelanggan. 
Melalui diskusi internal Desa bersama Desakarta Institut memutuskan untuk segera menyelesaikan tanggungan dan menyudahi kerjasama. Kerjasama dengan pihak ketiga dihentikan dengan surat pemutusan kontrak dan BUM Desa Mardi Gemi mulai menjalin kerjasama langsung dengan PT. Angkasa wave penyedia Bandwith di Yogyakarta. 
Setelah proses tersebut dilalui, layanan mulai membaik dan minim kendala. Melalui sosialisasi  pengembangan unit usaha ini dapat berkembang sampai ratusan rumahan dan ribuan voucher wifi terjual setiap bulannya. Bahkan sampai bulan Mei 2022 sudah terpasang di 140 pelanggan rumahan.  Proses tidak akan menghianati hasil, memang BUM Desa mardi Gemi masih sangat awam dalam usaha ini, teknisipun belajar otodidak. Namun lewat kegigihan dan basis data potensi penduduk dengan strategi yang tepat dan usaha pantang menyerah pasti akan membuahkan hasil. 
Melalui proses yang sudah dilalui saat ini, BUM Desa Mardi Gemi memulai terobosan barunya lagi dengan mulai merintis Desa Wisata dengan beberapa destinasi wisata, salah satunya adalah Bumi Watu Obong (bekas pengolahan batu kapur menjadi gamping/ campuran semen) yang saat ini direvitalisasi menjadi wisata edukasi dengan resto dan coffe shop yang diharapkan menjadi peluang baru peningkatan ekonomi masyarakat Desa. (Erni/Min)

kirim ke teman | versi cetak

 

Senin, 27 Juni 2022 11:52:04 - oleh : admin

Informasi "" Lainnya